Perjalanan Pertamaku Menuju Baitullah-NYA (Part 1: Madinah)

Hari ke-2, Minggu 27 April 2014  

Tulisan sebelumnya penulis menceritakan perjalanan dari Jakarta menuju Jeddah. Alhamdulillah penulis dan rombongan sampai di Jeddah dengan selamat, aman, nyaman dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Madinah. Dalam perjalanan menuju Madinah kami sempat berhenti sejenak untuk menikmati sarapan pertama kami di Jeddah.

Jeddah –Madinah ditempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam.  Jam tangan penulis menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat ….Yeah finally kami sampai di penginapan  yaitu Hotel Andalus Darul Al Khoir yang kami kira letaknya jauh dari Masjid Nabawi dan ternyata Masjid Nabawi terletak hanya kurang lebih 40 meter di sebarang penginaan kami. (Tips 2 : Sesuaikan setting-an jam tangan kita saat akan take-off sehingga saat sampai di tujuan jam kita sudah sesuai).

Di pelataran Masjid Nabawi

Di pelataran Masjid Nabawi

Kota madinah dilihat dari penginapan penulis (Andalus dal Khoir)

Kota Madinah dilihat dari penginapan penulis (Andalus dal Khoir)

Makan siang pertama kami di Madinah dengan menu masakan Indonesia, alhamdulillah yah feel like in Indonesia. Dan petugas yang melayani  kami pun ternyata orang Indonesia tepatnya orang Madura, Jabir namanya. Lanjut kami ke kamar untuk besih-bersih diri dan istirahat. Penulis dapat kamar nomor 902 di lantai 9, sekamar ber-5 karena memang kamar kmi sangat luas yaitu penulis, adek, bu Cita dan Lita hmm ternyata bu Cita dan bu Lita juga kakak beradik so 2 pasang kakak-beradik. Sambil beristirahat kami sambil mengakrabkan diri, bu Cita sebelumnya sudah pernah naik haji, jadi kami belajar banyak nih dengan beliau.

Info dari pembimbing bahwa kami akan ke masjid Nabawi bersama-sama rombongan saat sholat maghrib dan berkumpul di lobby hotel pukul 17.00 , akhirnya kami pun sholat ashar di hotel. Saat itu kami belum tahu bahwa letak Masjid Nabawi sangat dekat dengan hotel kami.  Sesuai jadwal kami akan berada di Madinah selama 3 hari yaitu  tanggal 27 s.d 29 April 2014. (Tips 3 : Cari info seberapa dekat penginapan dengan masjid Nabawi dan catat nomer handhone pembimbing, ketua rombongan, dan beberaa teman yang satu rombongan).

Beribadah  di masjid Nabawi-pun akhirnya kesampaian juga, sholat maghrib lanjut sholat isya. Merasa takjub, senang, haru bisa bersujud di masjid Nabawi masjid yang berdiri sangat kokoh, sangat indah dan megah nuansa warna putih dan emas menghiasi masjid tersebut. Thanks O ALLAH, You give us to visit Haromain.

Saat pertama memasuki pelataran masjid …. penulis meneteskan airmata, payung-payung pelataran masjid Nabawi yang biasanya hanya penulis lihat di gambar ternyata saat itu penulis melihat secara langsung, berdiri di bawahnya. Tak henti-hentinya penulis sambil mengucapkan tasbih karena nikmat yang tiada terkira bisa berdiri di tempat itu, menyusuri pelataran masjid Nabawi, memasukinya, bersujud, sholat, berdoa, mengaji, minum air zam-zam sepuasnya bahkan ke roudhoh

Nikmat sekali bisa bersujud di Nabawi. Lantainya di alasi karpet-karpet tebal dan mewah, AC yang ada di tiang-tiang bangunan menambah betah untuk beribadah, biarun Madinah panas dengan suhu saat itu 39 derajat celcius namun Nabawi terasa sangat adem. Galon-galon air zam-zam yang disediakan di kanan kiri pintu masuk pun menambah betah kita berdiam di Nabawi. Air zam-zam yang tersedia ada yang dingin (cold)dan biasa (fresh).

Setelah sholat isya berjama’ah di  Nabawi selanjutnya kami akan ke Roudhoh yaitu taman-taman surga yaitu tempat antara makam Rosullullah dan mimbar beliau dan ditandai dengan karpet berwarna hijau), Roudhoh adalah tempat termustajab untuk berdoa di Madinah. Namun sebelumnya kami harus kembali ke penginapan untuk makan malam. Jadwal makan kami adalah :  makan pagi yaitu setelah sholat shubuh , makan siang yaitu setelah sholat dzuhur, dan makan malam yaitu setelah sholat isya.

Gentong air zam-zam yang disediakan di dalam Masjid Nabawi

Gentong air zam-zam yang disediakan di dalam Masjid Nabawi

Di depan Roudhoh (taman-taman surga yang terletak di antara makan Rosulullah dan mimbar beliau

Di depan Roudhoh (taman-taman surga yang terletak di antara makan Rosulullah dan mimbar beliau

Roudhoh di siang hari

Roudhoh di siang hari

Pintu Makam Rosulullah, diambil dari tempat sholat pria ... Makasih ya mba Nuning, suaminya sudah mengambilkan foto ini

Pintu Makam Rosulullah, diambil dari tempat sholat pria … Makasih ya mba Nuning, suaminya sudah mengambilkan foto ini

Mimbar Rosulullah, diambil dari tempat sholat pria. Sekali lagi terimakasih mba Nuning karena suamniya sudah mengambilkan gambar ini

Mimbar Rosulullah, diambil dari tempat sholat pria. Sekali lagi terimakasih mba Nuning karena suamniya sudah mengambilkan gambar ini

Roudhoh untuk pria dibuka sepanjang waktu, jadi para pria bisa ke roudhoh kapanpun, berbeda dengan wanita ada jadwal untuk ke roudhoh yaitu dua kali sehari. Setelah sholat dhuha kira-kira pukul  09.00 waktu setempat sampai dengan menjelang dzuhur dan setelah sholat isya kira-kira jam 22.00 sampai dengan pukul 24.00 waktu setempat. Ustad Fariz membimbing  Jama’ah pria dan kami dibimbing oleh pembimbing wanita. Roudhoh terletak dekat dengan gate-21, maka kami-pun langsung menuju gate-21 dan menyusuri masjid sesuai dengan batas-batas yang dibuat oleh askar. Sebagai info tambahan  bahwa saat waktu sholat, jalan menuju roudhoh dibatasi dengan  papan pembatas dan di buka saat jam yang penulis sebutkan di atas. Sungguh tak sabar hati ingiiin sekali segera bersujud di roudhoh-Mu yaa Allah.  Setelah masuk melalui gate -21, maka berikutnya kita akan mengantri sesuai dengan barisan yaitu barisan melayu dan barisan orang-orang berjubah hitam. Dan kami orang Indonesia mengantri di barisan melayu disini termasuk orang Malaysia. Kenapa antara orang melayu dan orang-orang berjubah hitam dipisah/ salah satunya adalah karena untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama beribadah di Roudhoh, bayangkan jika kita yang orang melayu dengan tubuh mungil berdesak-desakkan dengan mereka yang berjubah hitam dengan perawakan tinggi dan besar, pastinya kita akan rawan terjepit, jatuh bahkan terinjak-injak.

Sekitar 20 menit kami mengantri, akhirnya mendapat giliran …. kami pun berjalan menuju Roudhoh. Eits … belum sampai di Roudhoh, sang askar pun meminta kami untuk berhenti dan mengantri lagi tepat di dean roudhoh. Can’t wait it yaa Allah …. Sang pembimbing pun mengarahkan kita untuk membaca buku panduan meliputi salam untuk Rosulullah, salam untuk sayyidina Abu bakar dan sayyidina Umar (makan mereka berdua terletak di dekat makan Rosulullah) dan perbanyak doa. 15 Menit kemudian akhirnya kami pun mendapatkan giliran untuk menuju Roudhoh. Yes!!! Rudhoh!!!!. Awalnya penulis tidak menyadari bahwa itu adalah Roudhoh karena saking penuhnya dengan orang, karpet hijaupun tak terlihat. Penulis baru menyadari saat pembimbing meberitahukan bahwa “ini adalah roudhoh, ayo sholat sunah dan perbanyak doa” . Lagi-lagi penulis meneteskan air mata karena nikmat  yang begitu besar sampai-sampai penulis bisa bersujud di Roudhoh dan ditemani dengan adek dan seorang kawan kantor “mba Nuning”.  Penulis pun sholat mutlak 2 rokaat, sholat hajat, dan sholat witir. Di sujud terakhir penulis tambahkan doa yang sangat panjang karena saat sudah salam nanti maka kita akan siminta cepat kelaur dari barisan yaa bahasa kasarnya ‘diusir” so untuk doa bacalah di sujud terakhir karena salah satu saat yang mustajab berdoa adalah di sujud terakhir atapun saat sebelum salam pada tahyat terakhir.

Alhamdulillah … Nikmat-Mu mana lagi yang engkau dustakan? “Tidak ada satupun nikmat-Mu yang aku dustakan yaa Allah”.

Setelah selesai di Roudhoh, kami pun berkumpul tidak jauh dari roudhoh sambil menunggu teman-teman satu rombongan yang masih di Roudhoh. Semuanya selesai jam 01.00 dan kami lanut kembali ke penginapan. Indahnya Nabawi di malam hari … masyaAllah .

Masjid Nabawi di Malam Hari

Masjid Nabawi di Malam Hari

Hari ke-3, Senin  28 April 2014 

City  tour Madinah : ke masjid Quba, Kebun Kurma, Jabal Uhud dan Jabal Magnet.

Masjid Quba

Masjid Quba

Menurut hadist yang disampaikan oleh ustad pembimbing yang artinya kurang lebih bahwa “barang siapa sholat dua rokaat di masjid Quba dan dia mempunyai wudhu dari tempat tinggal atau tempat penginapan maka di amendapatkan pahala seperti pahala berumroh”. So saat akan ke masjid Quba, jangan lupa berwudhu dari penginapan dan jaga agar tetap suci sampai masjid Quba berikutnya sholat sunah 2 rokaat, bisa sholat sunahh mutlak maupun sholat sunah lainnya. Saat ke tempat ini, sempat hujan deras namun hanya sebentar. Alhamdulillah …. bisa merasakan hujan di tanah haram-Nya. Ustad pembimbing menyampaikan bahwa jika kita merasakan hujan di tanah haram itu artinya berkah, saat tubuh kita terkena air hujannya maka biarkan saja air hujan tersebut membasahi tubuh kita.

Kebun Kurma

Kebun Kurma

Madinah terkenal dengan hasil kurmanya, dan di Kebun Kurma ini kita akan melihat pusat penjualan kurma di kebun kurmanya langsung. Kita bisa mengabadikan dengan berfoto di Kebun Kurma yang sangat luas. Dan uniknya di Pusat penjualan kurma area Kebun kurma ini, kita bisa makan kurma maupun coklat sepuasnya gratis asal tidak dibawa dalam kantong. Jika dibungkus dalam kantong nah itulah yang di bayar. Banyak sekali jenihan kurma (dates) yang disediakan, ada kurma ajwa atau kurma Nabi, kurma maryam, kurma sukari, kurma muda. Nah kurma muda ini berdasarkan info yang didapat oleh penulis bahwa kurma muda sangat bermanfaat untuk kesuburan biasanya dimakan oleh perempuan yang lama menantikan buah hati dan berharap segera hamil dan saat ini juga tersedia kurma muda dalam bentuk serbuk, saat penulis ke tempat tersebut harganya 40 real (1 real 3.300 IDR). Sunahnya untuk makan kurma dalam jumlah ganjil, misal 1 biji, 3 biji, 5 biji, atau 7 biji. Menurut info dari dari ustad pembimbing jika makan kurma ajwa 7 biji di pagi hari sebelum makan apa-apa maka akan terhindar dari sihir.

Jabal Uhud dilihat dari jauh

Jabal Uhud dilihat dari jauh

Jabal Uhud atau Gunung Uhud adalah saksi sejarah zaman Rosulullah. Penulis kali ini tidak naik sampai ke puncak uhud karean kondisi yang tidak memungkinkan yaitu hujan deras, baru saja melangkah kira-kira 50 meter hujan turun dengan derasnya. Lag-lagi bertemu hujan di tanah haram, alhamdulillah yaa Allah … semoga bertanda kebaikan.  Aamiin. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan yaitu menuju Jabal Magnet.

Jabal Magnet (Gunung Magnet)

Jabal Magnet (Gunung Magnet)

Menikmati Ice Cream di Jabal Magnet

Menikmati Ice Cream di Jabal Magnet

Jabal Magnet atau Gunung magnet, sesuai dengan namanya “magnet” gunung ini mengantung gaya magnet yang sangat kuat sehingga saat melewati gunung ini mesin bus yang kami tumpangi dalam keadaan mati namun bisa jalan dengan sendirinya yaitu karena gaya magnet yang ada pada Jabal Magnet. Kecepatannya bisa di bilang lumayan cepat namun penulis tidak tahu karena menurut info dari pengemudi bus-nya bahwa beliau tetap memainkan rem karena jika tanpa rem maka kecepatannya akan lebih tinggi.  Seperti yang terlihat di gambar, pegunungan di Saudi Arabia berbatu dan gersang, yah begitulah adanya. Sesaat setelah kami berkeliling sekitar Jabal Rahmah, terlihat penjual ice cream yang sangat menggiurkan di suhu sepanas Saudi. Hmmm akhirnya penulis dan adek memutuskan untuk membeli ice cream dengan harga 2,5 real dan penulis memilih rasa mocca .

Hari ke-4, Selasa  29 April 2014 

Hari terakhir di Madinah kami memperbanyak sibadah di masjid Nabawi dan menyempatkan ke Roudhoh setelah sholat dhuha sekalian berpamitan kepada Rosulullah bahwa kami akan meninggalkan kota Madinah Al Munawaroh menuju kota Mekkah Al Mukaromah. Dan berdoa semoga kami dipantaskan kembali untuk mengunjungi Nabawi dan Roudhoh bersama orang-rang yang kami sayangi.

Selanjutnya kami menikmati makan siang dilanjutkan menuju Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot umroh. Slah satu tempat untuk mengambil miqot untuk penduduk atau jamaah yang dari Kota Madinah adalah Masjid bir Ali.

Masjid Bir Ali, untuk memgambil miqot umroh untuk jamaah yang dari Madinah

Masjid Bir Ali, untuk memgambil miqot umroh untuk jamaah yang dari Madinah

Tips 3 : saat  di Masjid Nabawi :

  1. Bawa tas atau plastik untuk menyiman sandal, walaupun di dekat pintu masuk masjid Nabawi ada tempat penitipan sandal sepatu. Dengan membawa tas sendiri maka akan memeprmudahkan kita, tidak perlu mengantri untuk mengambil sandal/ sepatu apalagi jama’ah yang sholat di masjid Nabawi itu sangat banyak .
  2. Membawa botol 500 ml s/d 1000 ml untuk menampung air zam-zam yang disediakan pihak masjid , walaupun disediakan gelas-gelas untuk minum. Air zam-zam yang kita bawa di botol bisa kita bawa ke penginapan sehingga saat di penginapan pun kita tetap bisa menikmati air zam-zam.
  3. Bawa botol spray kecil dan isilah dengan air zam-zam serta simanlah selalu dalam tas teteng anda. Zam-zam sray tersebut  bisa disemprotkan di wajah saat berasa kering, mengingat suhu di Madinah lebih panas jika dibandingkan di Indonesia.
  4. Jika anda batal dari wudhu, di elataran masjid Nabawi ada keran air zam-zamdan keran air baisa yan bisa digunakan untuk berwudhu atau bisa juga di toilet namun letaknya agak jauh karena ada di alntai bawah.
  5. Toilet letaknya tidak jauh dari pintu masuk dan terlihat jelas ada tulisannya untuk “women/ perempuan” atau “men/pria” . Toilet ada di lantai bawah, dan untuk menuju bawah tersedia eskalator. Di toilet tersedia juga kran-kran untuk berwudhu. Pastikan saat ke toilet tidak sendirian untuk menjaga keamanan. Klo penulis biasanya masuk dari intu yang dekat dengan toilet 8 karena penginaan penulis lebih dekat dari pintu tersebut.
  6. Jika membawa camera digital pocket atau handphone  berkamera sebaiknya disimpan dibagian valing bawah dengan diselikan di sajadah atau mukena, karena askar (penjaga masjid)  akan memeriksa barang bawaan kita dan tas kita juga dibuka dicek.
  7. Di masjid Nabawi tempat sholat wanita dan pria dipisah so jangan sampe salah masuk yah😉. Kalo penulis kemarin sholatnya masuk dari gate-17 yaitu pintu Al-Khatab.
  8. Pahala beribadah di masjid Nabawi adalah 1000 kali jika dibandingkan dengan beribadah di tempat lain (selain masjidil harom), so optimalkan untuk beribadah selama di Madinah.
  9. Selalu membawa buku panduan umroh.

Tips 4 : saat  ke Roudhoh :

1. Membawa barang secukupnya, misal mukena, botl untuk menyimpan air zam-zam, al Qur’an, buku panduan umroh ynag berisi doa-doa.

2. Bersabar dan pelan-pelan menuju shaf paling depan yang ada pembatasnya sehingga kita bisa sholat secara khusu.

3. Tidak jauh-jauh dari rombongan agar tidak tersesat.

4. Perbanyak doa pada sujud terakhir maupun sesaat sebelum salam, karena jika kita berdoa setelah salam dengan menengadahkan tangan pasti kita akan diusir agar bergantian dengan jamaah lain.

Itulah seklumit cerita penulis di Madinah. Perjalanan dari Madinah Al Munawaroh  menuju Mekkah Al Mukaromah ditempuh dalam waktu kurang lebih 8 jam, yaitu dari Madinah pukul 13.00 waktu Saudi dan sampai di Mekkah Al Mukaromah pukul 21.00 waktu Saudi. Nantikan juga yah cerita penulis selama di Mekkah Al Mukaromah.

Baca Juga :

Perjalanan Pertamaku Menuju Baitullah-Nya 1 (Soetta – Jeddah)

Perjalanan Pertamaku Menuju Baitullah-Nya 3 (Mekkah), coming soon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s