Kolak “Kering Tempe”, sebuah cerita lucu menjelang berbuka puasa

kolak1KOLAK  KERING TEMPE. Benarkah ada? Rasanya gimana ya, enakkah? atau aneh ya? Banyak pertanyaan yang berkecamuk. Sebenarnya yang mau saya tulis bukanlah sebuah resep namun sedikit cerita lucu dan menjengkelkan menjelang berbuka puasa. Ini terjadi di hari ke-3 puasa Ramadhan 1434 H(2013) sekitar pukul 5 pm WIB.

Seperti  hari-hari sebelumnya, saya memasak dan salah satunya adalah bikin ta’jil (makanan ringan untuk pembuka misal : kolak, es dawet ayu, es kelapa muda, dll). Kali ini saya memasak kolak ubi jalar dan pisang. Air sudah mendidih, irisan ubi dan pisang sudah dimasukkan, bahkan ubi sudah lembut… eits, listrik mati sedangkan saya menggunakan kompor listrik so otomatis tidak bisa melanjutkan kegiatan masak memasak. Dengan pikiran simple, hmmm yang penting ada ta’jil (berupa kolak) karena saya belum sempat merebus air untuk membuat teh manis hangat (jasmine tea) kesukaan saya. So, mumpung air rebusan ubi dan pisang masih panas saya pun langsung menuangkan santan siap pakai (seperti kara, sun ..ups sebut merk. Gpp-lah ya) secukupnya dan gula merah irisan yang sudah saya siapkan. Saya aduk-aduk dengan santai dan semangat karena menjelang waktu berbuka puasa (notes : saat itu waktu berbuka adalah 5.55 pm WIB).

Awalnya santai, lama-lama ada rasa gak enak di hati ‘koq irisan gula merahnya jadi banyak ya? perasaan tadi hanya mengiris kira-kira 150 gram. Argghhhh baru inget, tadi di meja ada Kering Tempe kiriman ummi dari Jawa, yang warnanya jelas-jelas coklat. Aw aw aw … my kolak jadi bercampur dengan kering tempe huhhuu, baunya wangi santan tapi bau bumbu-bumbu rempah dan cabe. Sedih liatnya, padahal tadi udah seneng banget karena buat ta’jil minimal akan ada Kolak manis enak gurih, kental dan pas banget bikin dalam jumlah banyak karena rencan akan berbagi dengan tetangga.

Nasi sudah menjadi sayur eh bubur maksudnya, pasti KOLAK ‘KERING TEMPE’ pun rasanya gak jelas. Dengan berat hati akhirnya bikin kolak again.

Btw kenapa bisa sampai salah ambil? Yang jelas karena konsentrasi lagi rendah (baca : laper), listrik mati dan hanya ada emergency lamp kecil jadi pantry remang-remang dan masaknya sambil nonton tv. Hmmm komplit ya, Kering tempe berwarna coklat dikira irisan gula merah HAHAHAHAHA.

Kesimpulan :

Kalo masak menggunakan penerangan yang cukup, dan jonsentrasi.

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA bagi semua muslim di seluruh penjuru dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s